Matcha adalah teh hijau berbentuk bubuk yang diperoleh dari menggiling daun teh hijau pilihan hingga halus seperti tepung. Selain diminum pada upacara minum teh, matcha digunakan sebagai bahan perisa dan pewarna untuk berbagai jenis makanan, seperti mochi, soba, es krim, es serut, cokelat, berbagai jenis kue Barat, dan wagashi.
Matcha mengandung antioksidan tingkat tinggi, khususnya katekin, yang merupakan jenis flavonoid dan mengandung kafein alami. Katekin dapat membantu melawan radikal bebas dalam tubuh, mengurangi stres, dan mendukung kesehatan sel secara keseluruhan. Antioksidan ini yang dapat membantu mencegah kerusakan sel dan mengurangi risiko penyakit kronis seperti penyakit jantung dan kanker. Konsentrasi kafein dalam matcha dan asam amino L-teanina memiliki efek khusus pada otak. L-teanina meningkatkan fokus dan mengurangi efek negatif kopi, termasuk kecemasan. L-teanina dan kafein bekerja sama untuk meningkatkan daya ingat, stamina mental, dan fungsi kognitif. Matcha membantu membersihkan tubuh secara alami. Klorofil, pigmen hijau yang memberi warna pada daun teh, dapat membantu mengeluarkan logam berat dan zat berbahaya lainnya dari tubuh. Ini memberikan efek detoksifikasi yang bermanfaat untuk kesehatan ginjal dan hati. Antioksidan yang terkandung dalam matcha juga baik untuk kesehatan kulit membantu melawan penuaan dini dan juga jerawat.
Kebiasaan minum teh dimulai di Tiongkok pada zaman Dinasti Tang, namun baru menjadi populer pada zaman Dinasti Song. Khasiat dan cara membuat teh dicatat dalam kitab Cha Ching sekitar abad ke-8.
Pada zaman Heian, orang Jepang hanya mengenal Dancha (teh dalam bentuk bulatan seperti bola). Matcha diperkirakan pertama kali dibuat di Tiongkok pada abad ke-10. Orang Jepang mengenal matca sejak abad ke-12 (zaman Kamakura) setelah matca dibawa ke Jepang oleh pendeta Zen aliran Rinzai bernama Eisai. Di Jepang, matca juga menjadi salah satu bagian dari ritual dan budaya, terutama saat upacara minum teh atau yang dikenal sebagai chanoyu. Upacara atau ritual ini merupakan meditasi dan dikenal sebagai simbol keharmonisan, kesederhanaan, dan penghormatan terhadap alam dan sesama manusia.
Selama berabad-abad yang lalu, matca menjadi simbol eksklusivitas di kalangan bangsawan dan biksu di Jepang. Namun, seiring berjalannya waktu, popularitasnya mulai meluas di kalangan masyarakat di seluruh dunia seiring berkembangnya kebudayaan Jepang. Di era modern saat ini, popularitas matca bangkit akibat tren gaya hidup dan popularitas global. Matca kini bahkan hadir dalam berbagai varian modern, seperti es krim, kue, latte, hingga dipadukan dengan berbagai jenis makanan lainnya.